Support dan Resistance: Elemen Dasar Dalam Analisis Teknikal

Support dan Resistance: Elemen Dasar Dalam Analisis Teknikal

Support dan Resistance atau sering disingkat dengan SR, merupakan sebuah konsep yang akan sering didengar oleh para pelaku pasar. Ketika seseorang menyebutkan Support dan Resistance, di sini mereka merujuk kepada level atau posisi yang tidak bisa ditembus oleh pasar atau setidaknya membutuhkan dua kali percobaan dari pasar untuk menembus level atau posisi tersebut.

Support sendiri merupakan level atau posisi terendah dalam sesi dagang atau masa, dimana harga tidak bisa menembus level atau posisi tersebut untuk melanjutkan pergerakannya ke bawah atau melanjutkan downtrend.

Resistance merupakan kebalikan dari Support. Ia adalah level atau posisi tertinggi dalam sesi dagang atau masa. Di sini, harga tidak bisa menembus level atau posisi tersebut untuk melanjutkan pergerakannya ke atas, atau melanjutkan uptrend.

Support dan Resistance: Elemen Dasar Dalam Analisis Teknikal

Contoh Ilustrasi

Hal yang perlu di ingat oleh pelaku pasar mengenai dua konsep ini adalah, mereka bukanlah level absolut yang akan selalu dipatuhi oleh pasar. Pada suatu saat, level baik support maupun resistance akan dilewati oleh pasar. Jika hal itu terjadi, maka pelaku pasar akan mencarti titik support maupun resistance yang baru.

Sama halnya dengan prinsip ekonomi dasar, dalam pasar modal sendiri terdapat penawaran dan permintaan atau supply and demand. Supply and demand inilah yang kemudian membentuk SR yang ada pada pasar.

Contoh Illustrasi Supply and Demand Pada Pasar Modal

Contoh Illustrasi Supply and Demand Pada Pasar Modal

Cara Menentukan Support dan Resistance

Terdapat berbagai cara bagi pelaku pasar yang ingin menentukan support dan resistance pada pasar dagang yang dipilih. Di sini, kita akan mengambil 5 cara yang paling umum untuk digunakan dalam menentukan SR. Yaitu Secara Manual, Moving Average, Bollinger Band, Pivot Point, dan Fibonacci Retracement.

  • Secara Manual

Pada teknik ini, pelaku pasar menentukan sendiri level atau posisi yang mereka anggap sebagai support ataupun resistance. Di sini, pelaku pasar akan melihat history atau sejarah dari pergerakan pasar dan mencari level atau posisi dimana pasar tidak bisa bergerak melewati level atau posisi tersebut. Hal yang perlu diperhatikan ketika membuat SR secara manual adalah dengan memastikan bahwa level atau posisi tersebut sudah dicoba atau di test oleh pasar sebanyak dua kali. Semakin banyak test yang dilakukan oleh pasar, maka semakin kuat level atau posisi tersebut.

Support dan Resistance Secara Manual

Contoh Ilustrasi Secara Manual

SR sendiri tidak harus berada dalam level atau posisi yang datar. Support dan resistance juga bisa terbentuk dengan posisi yang miring, mengikuti trend yang sedang berlangsung pada saat itu.

Support dan Resistance

Contoh yang Bergerak Mengikuti Downtrend

  • Moving Average

Moving Average merupakan indikator yang populer untuk digunakan oleh para pelaku pasar. Jika kita menggunakan Moving Average sebagai SR maka yang kita perhatikan adalah bagaimana pasar bereaksi ketika mendekati garis Moving Average.

Ketika menggunakan teknik ini, para pelaku pasar memiliki 3 macam pilihan Moving Average yang bisa digunakan sebagai acuan SR. Simple Moving Average, Exponential Moving Average, dan Weighted Moving Average. Hal yang membedakan ketiga jenis Moving Average ini adalah bagaimana mereka mengkalkulasi rata-rata pergerakan harga. Bisa dikatakan, Exponential Moving Average lebih sensitif terhadap pergerakan harga dari pada Simple Moving Average. Sedangkan, Weighted Moving Average lebih sensitif dari pada Exponential Moving Average.

Contoh Illustrasi SMA, EMA, dan WMA Dengan Periode 20

Hal yang perlu diingat ketika menggunakan Moving Average sebagai level support dan resistance adalah semakin sensitif sebuah Moving Average bukan berarti semakin akurat Moving Average tersebut. Melainkan semakin banyak noise atau sinyal palsu yang dihasilkan oleh Moving Average tersebut.

  • Bollinger Band

Bollinger Band merupakan salah satu indikator lain yang bisa digunakan untuk mencari level atau posisi dari support dan resistance. Perlu diketahui, Bollinger Band memiliki base line yang sama dengan Simple Moving Average. Hal yang membedakan Bollinger Band dengan Moving Average adalah band pada sisi atas dan bawah dari base line Bollinger Band. Cara kerja dari teknik ini adalah dengan melihat bagaimana reaksi pasar ketika mendekati atau berada pada upper band, lower band, dan base line.

Contoh Ilustrasi Penggunaan Bollinger Band

Contoh Ilustrasi Penggunaan Bollinger Band

Ketika pasar mendekati band dari Bollinger Band, maka band tersebut akan melebar. Band akan terus mengikuti pergerakan harga yang bisa digunakan sebagai level atau posisi dari support dan resistance pasar tersebut. Karena sifatnya yang mengandung 3 elemen, upper dan lower band dan base line, Bollinger Band dapat menampilkan secara langsung dimanakah support, jika mengalami uptrend, atau resistance, jika mengalami downtrend, menggunakan baseline-nya.

  • Pivot Point

Pivot Point adalah sebuah tools yang terkadang disalah pahamkan menjadi sebuah support dan resistance. Walaupun Pivot Point dapat digunakan untuk mencari atau bahkan sebagai level support dan resistance, Pivot Point bukan lah support dan resistance. Pivot Point memiliki cara kerja dengan memperhitungkan harga buka (open), harga tutup (close), tinggi (high), dan rendah (low) dari satu sesi dagang sebelumnya. Setelah diperhitungkan, barulah dibuat Pivot Level dari perhitungan tersebut.

Selain level Pivot, Pivot Point juga menciptakan level support dan resistance pada sisi atas dan bawah dari level pivot. Level inilah yang kemudian bisa digunakan oleh para pelaku pasar sebagai level support dan resistance berdasarkan sesi dagang sebelumnya. Teknik ini lebih sering digunakan oleh para day-trader dimana mereka mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa membuka posisi dalam pasar lebih dari satu hari.

Contoh Illustrasi Penggunaan Pivot Point

Contoh Illustrasi Penggunaan Pivot Point

  • Fibonacci Retracement

Teknik Fibonacci bisa dibilang merupakan teknik yang fenomenal dalam dunia pasar modal. Banyak yang beranggapan bahwa Fibonacci bisa memprediksi dengan akurat bagaimanakah pasar akan bergerak. Fibonacci Retracement memiliki prinsip yang hampir sama dengan Pivot Point. Hal yang membedakan kedua konsep ini terdapat dalam penggunaan kalkulasi Fibonacci dalam Fibonacci Retracement.

Ketika kita menggunakan Fibonacci Retracement untuk mencari level support dan resistance, yang perlu kita perhatikan adalah level 0%, 38,2%, 50%, 61,8%, dan 100%. Ke-5 level ini merupakan level utama yang sering dilirik oleh para pelaku pasar. Hal ini menciptakan sebuah level yang diakui secara sentimen dan sering dipatuhi oleh pasar.

Contoh Illustrasi Penggunaan Fibonacci Retracement