Moving Average: Indikator Favorit Para Pelaku Pasar Modal

Moving Average: Indikator Favorit Para Pelaku Pasar Modal

Moving Average. Nama indikator yang satu ini pasti tidaklah asing bagi para pelaku pasar modal baik mereka yang pemula maupun yang sudah berpengalaman. Karena cara penggunaannya yang mudah, indikator yang satu ini menjadi salah satu indikator favorit yang digunakan oleh banyak pelaku pasar modal dan juga tersedia di berbagai platform yang ada.

Moving Average atau MA memiliki kaitan yang sangat erat dengan Analisis Teknikal yang sering digunakan oleh para pelaku pasar. Indikator yang satu ini biasa digunakan untuk menganalisa kemanakah pergerakan pasar dan letak support dan resistance yang fluid atau bergerak.

Fungsi utama dari indikator ini adalah untuk mengetahui atau melihat trend yang sedang terjadi. Hal ini diperlihatkan dengan pergerakan dari garis MA itu sendiri. Ketika garis indikator MA bergerak ke bawah, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pasar sedang mengalami downtrend. Sedangkan, ketika garis indikator MA bergerak ke atas, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pasar sedang bergerak uptrend.

Dalam penggunaannya, tidak terdapat aturan yang tetap. Pelaku pasar bisa menggunakan segala macam periode ketika menggunakan MA. Umumnya, Moving Average 200, 100, 50, dan 20 periode menjadi periode yang sering digunakan.

  • Moving Average 200 dan 100 Periode

Salah satu periode yang sering digunakan oleh para pelaku pasar adalah Moving Average 200 dan 100 periode. Kedua periode ini digunakan ketika pelaku pasar ingin menanamkan modalnya dalam waktu yang lama pada satu pasar.

Moving Average 200 dan 100 Periode

Contoh Illustrasi Moving Average Dengan Periode 200 dan 100

Pada gambar di atas, kita bisa melihat contoh dari pergerakan dari Moving Average dengan periode 200 dan 100. Cara kerja dari penggunaan kedua MA ini ada dua, ya itu sebagai penunjuk trend dan support dan resistance.

Untuk fungsinya sebagai penunjuk trend, kita bisa melihat kotak berlabel “A” pada gambar di atas, yaitu MA 100 periode, yang digambarkan dengan garis berwarna merah, melakukan crossover dari bawah ke atas melewati MA 200 periode. Hal ini menandakan bahwa pasar mulai mengalami uptrend dan benar saja, pasar terus bergerak naik ke atas. Di sini, selain menunjukkan trend, pelaku pasar juga bisa mengambil keputusan untuk melakukan buy dalam pasar ini.

Untuk fungsinya sebagai support dan resistance, kita bisa melihat kotak berlabel “B” dan “C” pada gambar diatas. Pada gambar diatas, kita melihat pasar bergerak mendekati garis MA 100 periode. Di sini, MA berfungsi sebagai support dan “menahan” pergerakan pasar, hingga pasar bergerak naik kembali.

Hal yang sama dilakukan kembali oleh pasar dengan bergerak mendekati garis MA 100 periode dan berhasil menembus support tersebut. Di sini, MA 200 periode berfungsi sebagai support yang lebih kuat, yang jika ditembus, maka bisa di ambil asumsi bahwa pasar telah mengalami perubahan trend.

Benar saja, pasar menembus MA 200 periode dan berubah menjadi downtrend. Di sini, pelaku pasar bisa keluar dari posisi uptrend dan siap-siap berganti posisi.

  • Moving Average 50 dan 20 Periode

MA 50 dan 20 periode memiliki fungsi yang sama dengan MA 200 dan 100 periode. Hal yang membedakan mereka adalah fungsi jangka waktu mereka.

MA dengan periode 200 dan 100 lebih sering digunakan oleh pelaku pasar dengan orientasi jangka panjang. Hal ini karena durasi periodenya yang lebih lama, sehingga garis MA menunjukkan trend dan sinyal “besar” dalam pasar.

Sedangkan, MA dengan periode 50 dan 20 lebih sering digunakan oleh pelaku pasar yang memiliki orientasi jangka pendek. Di sini, yang mereka cari adalah peluang untuk memasuki pasar sebanyak dan sesering mungkin.

Moving Average 50 dan 20 Periode

Selain dalam hal periode, hal lain yang bisa dipilih oleh pengguna Moving Average adalah jenis dari MA itu sendiri. Pada dasarnya, terdapat 3 macam jenis dari MA, yaitu Simple Moving Average, Exponential Moving Average, dan Weighted Moving Average.

  • Simple MA

Simple Moving Average atau yang sering disebut dengan SMA, merupakan jenis MA yang pertama kali kita temui atau pelajari mengenai Moving Average.

Di sini, MAakan menghitung pergerakan rata-rata dari pasar sebanyak periode yang telah kita tentukan. Tergantung kebutuhan, terdapat lima macam rumus yang bisa digunakan dalam membuat SMA, yaitu harga buka (open), harga tutup (close), tinggi (high), rendah (low), dan median (high + low).

Simple MA

Gambar di atas merupakan contoh dari SMA dengan 20 perioder yang menggunakan harga tutup (close) sebagai data yang diambil. Maka, perhitungannya jika kita mencari MA tanggal 16 Maret 2020, kita menjumlahkan semua harga tutup dari sesi dagang 16 Maret hingga 20 sesi dagang kebelakang dan membaginya dengan periode yang telah kita tentukan, yaitu 20.

Hasil dari penghitungan inilah yang kemudian menciptakan garis MA pada tanggal 16 Maret.

  • Exponential MA

Exponential Moving Average atau yang sering disebut dengan EMA, merupakan jenis MA kedua setelah Simple MA yang sering digunakan oleh para pelaku pasar.

Hal yang membedakan EMA dari SMA terdapat pada pembobotan data. Pada SMA, kita menyamaratakan status semua data yang kita ambil. Hal ini menciptakan sebuah lagging dimana, indikator bergerak lebih lamban dibandingkan pergerakan harga pasar.Untuk membenahi ini, maka diciptakanlah Exponential Moving Average atau EMA.

Pembobotan pada EMA ini diberikan kepada data terbaru yang kita ambil. Perlu diperhatikan, bahwa EMA bukanlah indikator yang terbaik atau semacamnya.

Perbandingan Antara SMA (Biru) Dengan EMA (Merah) Dengan Periode 20

  • Weighted MA

Weighted Moving Average atau yang sering disebut dengan WMA, merupakan jenis MA lain yang menggunakan pembobotan dalam perhitungannya.

Hal yang membedakan WMA dengan EMA adalah letak pembobotannya. Pada WMA, semua data yang termabil memiliki bobot masing-masing. Hal ini membuat pergerakan dari WMA menjadi lebih sensitive terhadap pergerakan pasar.

Hanya saja, perlu diingat, bahwa terkadang semakin sensitif sebuah indikator, semakin banyak noise atau sinyal palsu yang diciptakan oleh indikator tersebut.

Weighted Moving Average

Perbandingan Antara EMA (Biru) Dengan WMA (Oranye) Dengan Periode 20